Senin, 29 Juli 2013 – Pw. St. Marta, Maria, dan Lazarus, Sahabat Tuhan

“Hal Kerajaan Surga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. … sesawi itu … menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang di cabang-cabangnya …. Hal Kerajaan Surga itu seumpama ragi yang diambil seorang wanita dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat, sampai seluruhnya beragi.”

Dengan perumpamaan biji/pohon sesawi yang menjadi tempat bersarang bagi burung-burung, Yesus hendak menyampaikan bahwa Kerajaan Allah merupakan suasana yang memberikan perlindungan yang aman, nyaman, dan tenteram. Dengan perumpaan ragi yang mengubah tepung menjadi roti yang enak, Yesus hendak menyampaikan bahwa Kerajaan Allah mengubah kehidupan yang tawar dan hambar menjadi berasa enak dan bermanfaat bagi orang lain. Bagaimana kedua suasana ini bisa kita hayati dalam hidup kita? Kita mampu menjadi pribadi yang memberikan rasa aman, nyaman, dan tenteram bagi orang lain? Kita mampu menjadikan kehidupan bersama terasa enak? Kita bermanfaat bagi orang lain? Jawabannya adalah dengan membiarkan diri kita dirajai (dibimbing, diterangi, dikuasai, dijamin) oleh Allah. Atau, dengan mengambil inspirasi dari St. Marta, Maria, dan Lazarus, kita hidup sebagai sahabat-sahabat Tuhan. Mereka menjadi sabahat Tuhan, karena selalu membuka rumah dan hatinya untuk menerima kehadiran Tuhan dan mendengarkan Dia (Luk 10:38-42).

Doa: Tuhan, semoga kami selalu membuka diri untuk menerima kehadiran-Mu dan membiarkan Engkau meraja dalam hati dan hidup kami. Dengan demikian, kami menjadi sahabat-sahabat-Mu yang mampu memberikan rasa aman, nyaman, dan tenteram bagi orang lain. Amin.

Sabtu 27 Juli 2013 – Pekan Biasa XVI – Kel 24:3-8; Mat 13:24-30

“Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai tiba”

Kita masing-masing diciptakan Tuhan di dunia ini bagaikan benih gandum yang baik. Namun, bersama kita, hidup juga berbagai macam kejahatan yang disebarkan oleh musuh ( = roh jahat, iblis, atau apa pun nama dan wujudnya). Kejahatan itu, tentu saja terus-menerus mengganggu kita dan memang dibiarkan ada di sekitar kita. Alasannya, kalau kejahatan itu dihilangkan, kita yang baik bisa ikut tercerabut. Namun, lebih dari itu, adanya kejahatan justru untuk menguji kebaikan kita: apakah kita mampu tetap menjadi orang baik kendati kejahatan mempengaruhi kita? Apakah dengan kebaikan kita, kita mampu mempengaruhi dan mengalahkan kejahatan sehingga yang jahat bisa menjadi baik? Bukankah kalau tidak ada kejahatan, tidak ada perjuangan menjadi orang baik dan mempertahankan kebaikan?

Doa: Bapa kami yang ada di surga …. bebaskanlah kami dari segala yang jahat dan mampukanlah kami untuk mempengaruhi dan mengalahkan kejahatan dengan kebaikan. Amin.

Kamis, 25 Juli 2013 -Pesta St. Yakobus, Rasul – 2Kor 4:7-15; Mat 20:20-28

Mendengar (permintaan ibu Yakobus dan Yohanes) itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu. Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “… Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,…”

Hari ini kita merayakan pesta St. Yakobus, Rasul. Biasanya, dalam suatu pesta, ditampilkan kelebihan, kehebatan dan semua hal baik dari orang yang dipestakan. Namun, pada pesta St. Yakobus ini, Injil justru menampilkan tindakan Yakobus yang memicu kemarahan murid-murid lain. Tindakan itu juga tidak berkenan bagi Yesus karena Yesus menghendaki pelayanan tapi Yakobus meminta kedudukan. Yesus tidak marah (seperti halnya para murid) tetapi justru menjadikan tindakan Yakobus ini sebagai pangkal tolak untuk menyampaikan pengajaran-Nya tentang pelayanan. Dalam hidup selanjutnya, Yakobus sungguh menghayati apa yang diajarkan Yesus ini. Maka, kita bisa belajar dari St. Yakobus: tampail apa adanya di hadapan Tuhan termasuk dalam menyampaikan keinginan kita, tapi sekaligus terbuka untuk ‘dipernahke’ (bhs. Jawa) oleh Tuhan dan akhirnya mengikuti apa yang menjadi kehendak Tuhan.

Doa: St. Yakobus, doakanlah kami supaya kami dapat meneladanmu sebagai murid Kristus yang sejati. Amin.

Rabu, 24 Juli 2013 – Hari Biasa Pekan XVI Kel 16:1-5.9-15; Mat 13:1-9

“Barangsiapa bertelinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengarkan!”

Dalam satu hari, tentu ada banyak hal yang kita dengar, namun hanya sedikit yang mampu kita dengarkan. Apa bedanya? Mendengar ya sekedar mendengar tanpa perhatian. Sementara itu, mendengarkan selalu disertai perHATIan yang penuh sehingga apa yang didengarkan itu sungguh masuk dalam hati dan budi, serta menimbulkan pengaruh tertentu. Pengaruh itu antara lain berupa perasaan (sedih, senang, sesal, dll) dan pemikiran (niat dan kehendak) yang kemudian mendorong tindakan. Nah, sabda Tuhan yang ditaburkan dalam diri kita hanya akan berbuah dalam tindakan, kalau sabda itu tidak sekedar kita dengar, tapi kita dengarkan. Maka, berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.

Doa: Tuhan, ajarilah kami untuk mendengarkan sabda-Mu agar sabda-Mu selalu berbuah dalam hidup kami. Amin.

Selasa 23 Juli 2013 – Pekan Biasa XVI Kel 14:21-15:1; Mat 12:46-50

Sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya, Ia bersabda, “Inilah ibu-Ku, inilah saudara-saudara-Ku! Sebab siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga, dialah saudara-Ku, dialah saudari-Ku, dialah ibu-Ku.”

Kita biasanya merasa senang dan bangga kalau dikenali oleh orang yang hebat dan terkenal, terlebih kalau mereka menganggap kita sebagai saudara. Tentu, sudah sepantasnya, kita lebih bangga dan senang karena kita dikenali dan dijadikan saudara oleh Tuhan Yesus. Memang, untuk menjadi saudara Yesus, ada syarat yang harus kita penuhi, yakni melaksanakan kehendak Bapa di surga. Nah, apa yang menjadi kehendak Bapa dan harus kita laksanakan itu, antara lain kita temukan dalam doa dan Kitab Suci.

Doa: Tuhan, kami bersyukur karena Kauperkenankan menjadi saudara dan saudari-Mu. Semoga, kami semakin tekun menemukan kehendak-Mu dan setia melaksanakannya. Amin.

Senin, 22 Juli 2013 – Pw. St. Maria Magdalena

Maria (Magdalena) menoleh ke belakang, dan melihat Yesus berdiri di situ; tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus.

Maria Magdalena sangat mencintai Yesus. Maka, betapa sedihnya ketika Yesus wafat. Rupanya, ia begitu tenggelam larut dalam kesedihan sehingga tidak ingat akan sabda Yesus bahwa Ia akan bangkit. Ketika mendapati makam Yesus kosong, ia tidak dapat melihat hal itu sebagai tanda kebangkitan Tuhan. Bahkan, ia tidak mampu merasakan dan melihat kehadiran Tuhan di dekatnya. Dalam situasi seperti itu, ternyata justru Yesus yang mengenali dirinya dan memanggil namanya.

Apa yang dialami Maria Magdalena ini seringkali juga menjadi pengalaman kita. Ketika dihadapkan pada kesedihan, kehilangan, perpisahan dan pelbagai persoalan hidup, kita cenderung untuk  tenggelam dan larut di dalamnya. Akibatnya, kita tidak mampu melihat dan merasakan kehadiran Tuhan di tengah-tengah persoalan hidup kita. Namun sebaliknya, Tuhan justru mengenali kita dengan segala pergumulan hidup kita. Ia tidak pernah melupakan dan meninggalkan kita. Ia selalu hadir dalam setiap langkah hidup kita dan membangkitkan semangat serta menerbitkan terang di saat-saat kita mengalami kegelapan dan persoalan hidup.

Doa: Tuhan, berilah kami iman yang teguh setiap kali kami menghadapi kesedihan, kehilangan dan pelbagai persoalan hidup supaya kami tidak terlalut di dalamnya, tetapi kami mampu merasakan dan mengalami kehadiran-Mu yang menyertai, menerangi, menolong kami. Amin.

Minggu, 21 Juli 2013 – Hari Minggu Biasa XVI

Dalam perjalanan ke Yerusalem, Yesus dan murid-murid-Nya tiba di sebuah kampung. Seorang wanita bernama Marta menerima Dia di rumahnya. Wanita itu mempunyai seorang saudara bernama Maria. Maria itu duduk di dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya. 

Maria dan Marta adalah dua bersaudara yang sungguh terberkati karena dengan penuh sukacita, mereka menerima Yesus di rumahnya. Keduanya ingin melakukan yang terbaik bagi Yesus: Marta sibuk melayani (mungkin minum, cemilan, makan, dll) dan Maria mendengarkan Yesus dengan penuh perhatian. Marta melakukan hal yang baik dan Maria melakukan yang terbaik. Mengapa Yesus mengatakan bahwa dengan duduk mendengarkan Yesus, Maria telah memilih yang terbaik? Karena sikap Maria itulah yang harus kita contoh. Saat ini, Yesus tidak lagi membutuhkan pelayanan atau suguhan seperti yang dibuat oleh Marta. Yesus hanya membutuhkan diterima dalam hati dan rumah tangga kita, kemudian didengarkan apa yang menjadi sabda dan kehendak-Nya. Pelayanan kita lakukan melalui pekerjaan kita di tempat kerja, di tengah masyarakat, di Gereja atau pun di keluarga. Namun bagi Yesus, kita harus menyediakan waktu untuk menerima Dia di hati kita, berbincang-bincang dengan-Nya, dan mendengarkan Dia.

Doa: Tuhan, semoga aku selalu menyediakan waktu setiap hari untuk menerima Engkau dan berbincang-bincang dengan-Mu serta mendengarkan sabda-Mu. Amin.

Sabtu 20 Juli 2013 – Pekan Biasa XV Kel 12:37-42; Mat 12:14-21

“Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang. Kepada-Nyalah semua bangsa akan berharap.”

Entah kadang entah sering, kita pernah terkulai lemah dan tidak punya api semangat dalam hidup. Mungkin hal itu disebabkan karena fisik kita sedang capek atau sakit, hati kita sedang kesal, pikiran sedang kalut, dll. Kita merasakan sungguh tak berdaya dan terkulai lemas. Wajah kita pudar dan tidak menampakkan sinar kehidupan sama sekali. Dalam situasi seperti itu, Tuhan selalu ada untuk kita. Ia tidak akan mematahkan harapan kita dan memadamkan semangat kita. Sebaliknya, Ia berjaga untuk kita (bdk. bac I) supaya kita mampu bertahan. Ia menopang kita untuk tegak kembali. Ia memberikah Roh-Nya supaya kita bernyala kembali.    

Doa: Tuhan, semoga dalam kesulitan dan kerapuhan kami, kami selalu mengandalkan Engkau yang senantiasa menjaga, menopang dan mencurahkan Roh-Mu kepada kami. Amin.

Jumat, 19 Juli 2013 – Hari Biasa Pekan XV – Kel 11:10-12:14; Mat 12:1-8

“Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan”

Persembahan kepada Tuhan dan derma kepada sesama tentu saja merupakan perbuatan yang baik dan terpuji. Namun, hal itu tidak bermakna sama sekali di hadapan Tuhan, jika tidak dilakukan atas dasar belas kasih. Maka, Yesus mengingatkan agar belas kasih selalu menjadi dasar, alasan dan pendorong bagi kita dalam melakukan apa saja: bekerja, memberikan persembahan, berderma, menolong orang lain, dll. Bahkan, kalau kita mengingatkan dan menegur orang lain pun, harus didasari oleh cinta kasih, bukan oleh kebencian, iri hati, rasa tidak suka, dan perasaan-perasaan negatif lainnya, seperti yang dilakukan orang-orang Farisi.

Doa: Tuhan, Engkau menghendaki agar cinta dan belas kasih selalu menjadi dasar dari setiap tindakan kami. Kami mohon, berilah kami hati yang penuh belas kasih, seperti hati-Mu sendiri. Amin.