41 Calon Penerima Komuni Pertama Paroki Pinggoyalan Diajak Melihat Langsung Proses Pembuatan Hosti di Pabriknya

Penerima Komuni Pertama Paroki Pinggoyalan Melihat Langsung Proses Pembuatan Hosti

PRINGGOLAYAN – Sebanyak 41 calon penerima komuni pertama Paroki Pringgoyalan antusias melihat langsung proses pembuatan hosti di Postulat dan Novisiat Suster CB Provinsi Indonesia, Jln. Affandi CT X/26 Santren Yogyakarta, Sabtu (24/2/2024).

Mereka sengaja diajak langsung ke pabrik hosti tersebut agar tahu proses pembuatan hosti itu seperti apa.

Namun menurut pendamping kegiatan yang juga Koordinator TP Sakramen Inisasi Bidang Pewartaan dan Evangelisasi Paroki Pringgolayan, Clara Adriane Mauretha, anak-anak dapat mengenal lebih dekat tentang hosti.

Hosti disebut juga sebagai roti sakramen, roti perjamuan kudus, roti komuni atau Anak Domba. Bagi umat Katolik tentu tidak semuanya boleh menerima komuni atau roti hosti ini.

Umat Katolik yang sudah dibaptis dan berusia minimal 9 tahun sudah berhak menerima komuni.

Tapi, sebelumnya harus atau wajib mengikuti pembekalan bagi calon penerima komuni pertama dengan beberapa kali ikut pertemuan.

“Pada saat anak-anak mengikuti pertemuan di gereja, ada yang bertanya hosti itu dibuat dari apa. Untuk itulah kami mengadakan kegiatan ini,” ujar Clara.

Menurut dia, dari total 44 calon penerima komuni pertama, yang hadir di kegiatan ini ada 41 anak.

Tujuan dari kegiatan ini untuk pengenalan proses pembuatan hosti dari nol sampai hosti siap dikirim ke gereja-gereja Katolik.

Perlu diketahui, hosti yang dibuat di Postulat dan Novisiat Suster CB Provinsi Indonesia ini untuk dikirim ke gereja-gereja yang ada di Keuskupan Agung Semarang (KAS).

“Nantinya, kegiatan seperti ini akan diagendakan setiap tahun bagi calon penerima komuni pertama di Paroki Pringgolayan,” jelasnya.

Salah satu orangtua calon penerima komuni pertama, Wahyu Ristyadi mengatakan bahwa kegiatan ini sangat unik.

Sebab, anak-anak diajak secara langsung melihat proses pembuatan hosti yang menjadi bagian dari ekaristi.

“Banyak anak-anak yang penasaran bagaimana hosti itu dibuat, maka mereka diajak langsung melihatnya di sini,” tutur dia.

“Saya berharap anak-anak bisa lebih mencintai ekaristi karena mereka diperlihatkan rangkaian dari ekaristi. Bukan hanya di meja altar saja pada saat perayaan ekaristi, tapi juga di balik layar proses pembuatan hosti,” terang Wahyu.

Sementara itu, salah satu suster pendamping kegiatan dari Postulat dan Novisiat Suster CB Provinsi Indonesia, Suster Silveriana CB menyambut baik kunjungan dari para calon penerima komuni pertama dari Paroki Pringgolayan.

Suster Silveriana berharap kegiatan ini bisa menambah pengalaman dan pengetahuan anak tentang proses pembuatan hosti.

“Biasanya anak-anak penasaran rasa hosti itu seperti apa. Karena mereka diajak ke pabriknya, maka sortiran hosti atau cetakan roti yang rusak itu mereka bisa mencicipinya langsung,” jelas Suster Silveriana.

Proses pembuatan hosti

Adapun proses pembuatan hosti dari nol sampai siap dijual atau dikirim ke gereja-gereja itu dibuat selama kurang lebih tiga hari dua malam.

Bahan-bahan:

  1. Tepung terigu
  2. Air

Komposisi pembuatan:

Untuk komposisi tepung terigu 4 kg dicampur dengan 5 liter air. Kedua bahan itu dicampur atau diaduk dengan alat hingga menjadi satu.

Adonan kemudian dicetak dengan alat press. Di pabrik tersebut terdapat 6 alat press. Dalam satu hari yang dimulai pukul 07.00-14.00, pabrik tersebut bisa menghabiskan sebanyak 25 kg bahan tepung terigu.

Setelah dipress atau dicetak menjadi lembaran besar, maka hosti itu melalui proses berikutnya, yakni dilembabkan selama satu malam.

Setelah itu lebaran hosti dicetak dengan alat potong lingkaran seukuran hosti kecil dan dipilah-pilah lagi hosti yang bulat sempurna.

Selanjutnya hosti bulat kecil dikeringkan dengan alat pengering selama satu malam agar hosti benar-benar kering, renyah, dan awet.

Barulah hosti dipilah lagi yang bulat sempurna untuk kemudian siap dijual atau dikirim ke gereja-gereja se Keuskupan Agung Semarang.

Selain diajak melihat proses pembuatan hosti, para calon penerima komuni pertama Paroki Pringgolayan juga diajak masuk ke dalam museum susteran CB atau Carolus Borromeus.

Tak hanya itu saja, sebanyak 41 calon penerima komuni pertama tersebut juga diajak untuk mengunjungi makam para suster Kongregasi CB.

Jadi, suster-suster CB yang meninggal nantinya akan dimakamkan di makam tersebut di Postulat dan Novisiat Suster CB Provinsi Indonesia.

Penulis: Albertus Aditya Kurniawan (Lingkungan SPMBG)

Loading

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2024
Gereja Katolik Paroki Santo Paulus Pringgolayan