Rabu, 19 Agustus 2026
Hari Biasa Pekan Biasa XX
Peringatan Santo Yohanes Eudes, Imam
📙 Yehezkiel 34:1-11
📙 Mazmur 23:1-6
📙 Ibrani 4:12
📙 Injil Matius 20:1-16a
”Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?”
Mat 20:15
Saudaraku yang terkasih dalam Kristus,
Salam jumpa kembali dalam kasih Tuhan yang melimpah.
Saudaraku,
Pernahkah kita merasa diperlakukan tidak adil hanya karena melihat orang lain mendapatkan kebaikan yang sama, atau bahkan lebih, padahal kita merasa sudah bekerja lebih keras?
Dunia kita membesarkan kita dalam sistem merit: siapa bekerja paling lama, dialah yang berhak mendapat imbalan paling besar.
Namun, perumpamaan pekerja kebun anggur hari ini menyingkapkan cara pandang Allah yang sama sekali berbeda. Allah tidak melihat manusia dengan kalkulator prestasi, melainkan dengan mata belas kasih.
Bagi Allah, semua orang, baik yang datang sejak subuh maupun yang baru bergabung di penghujung hari, adalah anak-anak yang dikasihi-Nya. Bahkan seorang pendosa yang baru bertobat di akhir hidupnya tetap memiliki ruang yang sama dalam pelukan kerahiman-Nya.
Sayangnya, hati manusia sering kali gagal memahami cara pandang ini.
Melalui Nabi Yehezkiel, Allah mengecam para gembala Israel, para raja dan pemimpin agama, yang gagal memelihara umat, bukannya menuntun menuju padang rumput yang hijau dan air yang tenang seperti yang dilukiskan dalam Mazmur 23, mereka justru memeras, membebani, dan membiarkan domba-domba-Nya terlantar.
Mereka bekerja bukan dengan hati, melainkan demi keuntungan diri sendiri.
Kemurkaan Allah muncul karena mereka telah kehilangan belas kasih. Sama seperti para pekerja kebun anggur yang mengeluh di akhir hari, mereka memandang pelayanan dan relasi dengan Allah sekadar sebagai transaksi atau kewajiban formal, bukan sebagai bentuk syukur atas kasih-Nya.
Belajar dari Hati Santo Yohanes Eudes
Hari ini Gereja juga memperingati Santo Yohanes Eudes, sosok yang hidupnya menjadi cerminan nyata dari bacaan hari ini.
Di tengah zaman di mana banyak pelayan Gereja terjebak dalam rutinitas formalitas, Santo Yohanes memilih jalan yang berbeda.
Ia tidak menghitung berapa jam ia berkhotbah atau berapa desa yang telah ia lintasi.
Ia tergerak oleh belas kasih: merawat korban wabah, merangkul mereka yang tersisih, dan mendedikasikan hidupnya untuk membina para imam agar menjadi gembala yang sungguh berhati seperti Kristus.
Bagi Santo Yohanes, pelayanan bukanlah tempat untuk menuntut hak atau mencari pujian, melainkan tempat untuk membagikan kasih yang telah lebih dulu ia terima dari Allah.
Refleksi untuk kita
hari ini kita diundang untuk memeriksa hati kita masing-masing:
- Jika kita diberi amanah sebagai gembala, baik dalam keluarga, komunitas, maupun tempat kerja, mampukah kita memimpin dengan belas kasih dan bukan menuntut atau memeras?
- Jika kita adalah seorang pekerja, apakah kita menjalankan tugas dengan ketulusan hati, ataukah kita mulai mengeluh dan iri saat melihat kemurahan hati Allah tercurah bagi orang lain?
Mari kita mengawali hari ini dengan tekad baru: bekerja dan melayani bukan karena terpaksa, melainkan sebagai wujud syukur atas kemurahaannya yang tak terbatas.
Semoga Nama Tuhan makin dimuliakan, kini dan sepanjang masa. Amin.
Marilah berdoa.
Bapa maha belas kasih, kami bersyukur untuk kehidupan penuh berkat Mu dan menjadikan kami untuk setia dan melandasi semua perbuatan hidup kami hanya pada belas kasihMu. Hantarlah kami untuk semakin menjalani hidup ini sesuai dengan kehendak KasihMu, sebab Engakulah Tuhan dan pengantara kami. Amin
📙🙏💓💓⭐✝️✝️
LeoPakadang/YgY/190826
Santo Yohanes Eudes, Doakanlah kami✝️✝️✝️
” Membeli kain berwarna merah,
Diikat rapi dengan tali benang.
Jangan iri bila Allah murah hati,
Kasih-Nya melimpah membuat tenang”
” Pergi ke bukit memetik selasih,
Singgah sebentar di tepi telaga.
Jadilah gembala penuh belas kasih,
Menuntun umat menuju surga”.