Menu Close

Menghadirkan Wajah Gereja : Apa Maksud dari Berjalan Bersama Semakin Katolik Dan Semakin Apostolik?

Dalam masa adven menyongsong hari Natal tahun 2022, Gereja Katolik mendorong umat untuk pulih bersama dari berbagai problematika yang pernah terjadi akibat dari dampak COVID-19, hal ini sesuai dengan cita-cita RIKAS. Kita ketahui bahwa semenjak masa pandemi segala bentuk pertemuan misalnya dalam bidang pendidikan maupun dalam pekerjaan diubah menjadi pertemuan daring (dalam jaringan).  Maka dari itu dalam kesempatan era new normal ini segala bentuk kegiatan sosial maupun kegiatan gerejawi diajak untuk kembali menggerakan untuk bertemu, kerinduan untuk berjalan bersama secara tatap muka, yang awalnya kita terbiasa bertemu secara daring sekarang kita diajak kembali untuk bertemu tatap muka face to face. Hal ini bukan berarti Gereja menentang teknologi yang menyediakan sarana untuk bertemu secara online. Semangat  apostolik yang diwariskan secara turun temurun harus tetap dilestarikan yakni pertemuan tatap muka, Kis 2:42 “Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan.” Kita sebagai umat beriman  harus memiliki jiwa untuk bertemu dan bersekutu secara tatap muka.

Misa Mingguan di Gereja Pringgolayan
Misa Mingguan di Gereja Pringgolayan

Katolik artinya adalah universal, maka umat Katolik diajak untuk semakin umum, semakin membaur di tengah-tengah masyarakat yang beragam untuk berjalan bersama, namun kita juga harus menyadari aspek universal tersebut memuat unsur spiritual yang berpusat pada ajaran Yesus Kristus. Oleh sebab itu setiap perbuatan atau tingkah laku umat Katolik di tengah masyarakat harus menunjukan nilai-nilai Injil, misalnya kepedulian, persatuan, persaudaraan, cinta kasih, dll. Kita juga tidak lupa bahwasannya menjadi orang Katolik tidak cukup jika hanya berbuat baik dalam artian secara moral umum, kita sebagai umat Katolik harus mengobarkan semangat untuk mempertanggungjawabkan identitas sebagai umat Katolik. Contoh konkret mempertanggungjawabkan identitas sebagai Katolik misalnya kita lebih giat lagi mendalami Kitab Suci, mengikuti perayaan ekaristi, melakukan aksi atas doa yang kita daraskan,  mengikuti pendalaman iman di lingkungan maupun di paroki, dan mengikuti pelayanan gerejawi (koor, katekis awam, misdinar, dll). Kekatolikan bukan sekadar beriman maka selesai, iman dan perbuatan harus seimbang, karena pada dasarnya iman tanpa perbuatan adalah mati (lih. Yak 2:14-17). Tuhan Yesus berkata “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! Akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” (Mat 7:21). Dari ayat tersebut kita dapat memetik makna bahwa iman kita harus dihidupi dengan perbuatan baik.

Apostolik menurut Katekismus Gereja Katolik (KGK) art. 857  Gereja disebut apostolik karena didirikan atas para rasul, founder utamanya adalah Tuhan Yesus itu sendiri. Maka Gereja harus melanjutkan tradisi para rasul, kita bisa ambil contoh dalam kisah cara hidup jemaat yang pertama dalam Kis 41-47, mereka berkumpul bersama secara tatap muka untuk berdoa dan memecahkan roti, selain itu mereka saling berbagi atas sesuatu yang dimiliki kepada yang lain. Kebersamaan para rasul dan jemaat perdana didasari atas rasa cinta terhadap Tuhan Yesus Kristus. Maka dari itu Gereja yang apostolik diajak untuk mencintai Tuhan yang diwujudkan dengan cara bersekutu alias berkumpul demi pengembangan karya paroki. Oleh sebab itu mari kita bersama-sama menghadirkan wajah Gereja di Paroki St. Paulus Pringgolayan ini, kita ketahui bersama bahwa Gereja bukan sekadar urusan administrasi (EG art. 25), Gereja merupakan komunitas umat beriman yang fleksibel, terbuka, dan misioner, maka setiap elemen yang ada di Gereja yaitu Pastur, anggota DPP, umat, dll harus bersinergi bersama (EG art. 28).

 231 total views,  3 views today

Related Posts

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *