PW Santo Bernardus, Abbas dan Pujangga Gereja
Kamis, 20 Agustus 2026
Bacaan Liturgi:
📙 Bacaan I: Yehezkiel 36:23-28
📙 Mazmur Tanggapan: Mazmur 51:12-15.18-19
📙 Bait Pengantar Injil: Mazmur 95:8ab
📙 Bacaan Injil: Matius 22:1-14
”Sebab Dialah Allah kita, dan kitalah umat gembalaan-Nya dan kawanan domba tuntunan tangan-Nya. Pada hari ini, sekiranya kamu mendengar suara-Nya! Janganlah keraskan hatimu…”
— (Mzm. 95:7-8)
Saudaraku yang terkasih dalam Kristus,
Salam jumpa dalam kasih Tuhan yang tidak pernah berhenti menyapa dan merengkuh kita demi keselamatan jiwa kita.
Saudaraku,
Di tengah kelelahan dan penderitaan umat Israel pada masa pembuangan di Babel, mata dan hati Allah tidak pernah berpaling dari mereka. Kerahiman Allah itu melampaui segala batas dan ditujukan kepada siapa saja.
Namun, pertanyaan mendasar bagi kita hari ini adalah: Apakah hati kita cukup peka dan rela merespons tawaran kasih-Nya?
Melalui Bait Pengantar Injil hari ini, kita diingatkan dengan lembut namun tegas: jangan mengeras hati, jangan menyumbat aliran rahmat-Nya. Dengarkanlah suara-Nya hari ini!
Dalam Injil Matius, kita membaca perumpamaan tentang perjamuan kawin. Mereka yang pertama-tama diundang, yang merasa paling layak, justru menolak hadir karena hati dan telinga mereka tertutup oleh kepentingan diri dan kesombongan.
Akibatnya, raja membuka pintu perjamuan bagi siapa saja di persimpangan jalan. Kasih Allah terbuka bagi semua bangsa.
Namun, perumpamaan itu tidak berhenti di sana. Ada satu detail penting: pakaian pesta.
Menjawab undangan Tuhan tidak cukup hanya dengan sekadar “hadir” atau mengganti status lahiriah semata. Undangan keselamatan menuntut persiapan jiwa, sebuah pertobatan sejati yang mengubah cara hidup lama menjadi hidup yang berbuah di dalam Kristus.
Tanpa pertobatan sejati, kehadiran kita dalam perjamuan-Nya menjadi sia-sia.
Sering kali, tanpa sadar kita jatuh ke dalam kesombongan rohani. Kita merasa sudah “paling beriman” hanya karena rajin hadir dalam Perayaan Ekaristi, tekun membaca Kitab Suci, atau tiada henti berdoa.
Namun di saat yang sama, hati kita masih menyimpan dendam, enggan mengampuni, keras kepala, dan menutup pintu bagi rasa murah hati.
Inilah gambaran tamu yang ditegur sang Raja: hadir di tempat perjamuan, namun tidak mengenakan pakaian yang pantas.
Tuhan tidak melihat sekadar rutinitas ibadah kita; Tuhan melihat ke dalam kedalaman hati pribadi lepas pribadi.
Hari ini Gereja mengenang Santo Bernardus, seorang Abbas dan Pujangga Gereja. Beliau memilih jalan kerendahan hati dan pengabdian yang utuh: memperbaharui hidup membiara, membina jiwa-jiwa muda untuk mewartakan Kasih, serta setia membela kebenaran Gereja.
Santo Bernardus menunjukkan kepada kita bagaimana menganyam “pakaian pesta” itu melalui perbuatan kasih yang nyata dan kerendahan hati yang sungguh.
Saudaraku, jika hari ini kita merasa “pakaian jiwa” kita masih lusuh dan belum pantas, jangan berkecil hati apalagi putus asa. Datanglah kepada Tuhan dalam doa dan Sakramen Tobat. Mintalah agar Dia yang memperbaharui hati kita, mengambil hati yang membatu dan menggantinya dengan hati yang taat.
Mari kita gunakan kesempatan indah hari ini untuk membuka hati, menanggalkan kesombongan, dan mengenakan pakaian terindah berupa pertobatan dan kasih, agar kita layak menjadi peserta dalam Perjamuan Kudus Allah.
Misericordias Domini in aeternum cantabo.
Semoga nama Tuhan semakin dimuliakan.
Amin.
Marilah berdoa.
Bapa Surgawi terimakasih undangan kasihMu, terimakasih untuk uluran tangan kasihMu mengangkat kami dari lumpur dosa. Peliharalah hidup kami selalu sehingga mampu menjaga hidup kami serta mempersiapkan pakaian terindah dalam Perjamuan KudusMu.
Sebab Dikaulah Tuhan kami. Amin
📙✝️💓⭐⭐🙏🙏✝️
LeoPakadang/YgY/200826
Deo Gratias
Santo Bernardus, Doakanlah kami✝️✝️✝️
” Bersih berkilau kain selendang,
Ditenun lembut sepanjang malam.
Bukan sekadar datang diundang,
Tapi membawa hati yang penuh salam”.