Mengenal Strategi Koping Religiusitas dan Manfaatnya bagi Kesejahteraan Mental

18 Februari 2024 oleh Athanasia Dianri Susetiya Putri, M.Psi., Psikolog

Editor: Romo Yustinus Joko Wahyu Yuniarto, Pr.

Tak terasa kita kembali memasuki masa Pra-Paskah, mengenang kembali pengorbanan Yesus Kristus menebus dosa kita semua. Di masa ini pula kita diajak untuk meneladani betapa mudahnya hati Yesus tergerak oleh belas kasihan pada orang-orang dari berbagai latar belakang, termasuk mereka yang dianggap sebelah mata oleh masyarakat, seperti orang yang berdosa, sakit, menderita, dan kaum papa. Dalam tradisi Katolik, kita bisa meneladani-Nya dengan tiga cara, yaitu berdoa, berderma, serta berpuasa dan berpantang. Saat menjalaninya, berbagai godaan dan tantangan tentu perlu kita hadapi. 

Berbicara tentang tantangan, tampaknya merupakan hal yang pasti ditemui dalam keseharian. Jika dilihat dari pendekatan psikologis, terdapat tiga tipe strategi koping dalam merespon situasi tak nyaman. Strategi koping sendiri diartikan sebagai upaya kognitif, afektif, dan perilaku yang dilakukan untuk mengatasi, menurunkan, atau menoleransi tuntutan dari dalam maupun luar diri yang memunculkan stres. Ketiga strategi koping tersebut adalah emotion-focused coping (strategi yang berfokus pada pengelolaan emosi), problem-focused coping (strategi yang berfokus pada masalah), dan avoidance (strategi dengan cara menghindari persoalan).Dari ketiga macam strategi tersebut, strategi koping avoidance menjadi strategi yang paling tidak disarankan karena masalah tidak teratasi serta berpotensi memunculkan stres dan persoalan yang lebih besar di kemudian hari. Adapun contoh dari koping avoidance antara lain minum minuman beralkohol secara berlebih, menghabiskan waktu dengan scrolling media sosial tanpa tujuan produktif, ataupun menyangkal adanya persoalan tersebut (Burger, 2011).

Terkait dengan dua pendekatan lainnya, yaitu strategi koping yang berfokus pada masalah dan pengelolaan emosi, keduanya memiliki karakteristiknya masing-masing. Strategi koping yang berfokus pada masalah umumnya dilakukan ketika situasi berada dalam kendali kita, misalnya masalah komunikasi. Sementara itu, strategi koping yang berfokus pada pengelolaan emosi biasanya dilakukan saat situasi berada di luar kendali kita, misalnya kepergian orang terkasih (Burger, 2011). Meski begitu, strategi koping ini tetap dapat diterapkan ketika situasi berada dalam kendali kita sekalipun, misalnya menenangkan diri terlebih dahulu agar bisa lebih jernih memikirkan solusi dari persoalan yang dihadapi (Farber, 2006; Stiles, 1987; Tedeschi
dkk., 2018).

Strategi koping yang berfokus pada pengelolaan emosi dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti curhat pada orang terdekat yang dipercaya atau profesional, menuliskan uneg-uneg di kertas lalu membakarnya, ataupun meditasi (Basso dkk., 2019; Coates & Winston, 1987; Pennebaker & Chung, 2011;  Stiles, 1987; Tedeschi & Calhoun, 2004). Selain itu, strategi koping ini juga bisa dilakukan dengan melibatkan keyakinan dan nilai-nilai religiusitas atau yang sering disebut sebagai koping religiusitas (Agbaria & Abu-Mokh, 2023). Koping religiusitas diketahui dapat mendorong seseorang menemukan makna dalam hidupnya sehingga kesejahteraan psikologisnya akan meningkat (Francis dkk., 2019; Pargament dkk., 2000; Surzykiewicz dkk., 2022). Meski begitu, hal ini dapat terjadi apabila menggunakan pendekatan positive religious coping, yaitu memiliki hubungan yang aman dan nyaman dengan Tuhan. Salah satu caranya dengan melihat tantangan dari kacamata kasih dan terang Tuhan. Dengan begitu, seseorang akan lebih mampu untuk mengelola stresnya (Francis dkk., 2019). Sebaliknya, apabila pendekatan yang digunakan adalah negative religious coping, misalnya dengan menganggap tantangan sebagai hukuman dari Tuhan, kita justru akan lebih rentan merasa tertekan dan cemas. Dengan marah pada Tuhan atau menganggap bahwa kita sedang ditinggalkan-Nya, kepuasan hidup akan menurun (Francis dkk., 2019; Herber dkk., 2009).

Selain bentuk pendekatannya, orientasi koping religiusitas juga turut berpengaruh. Terdapat dua orientasi koping religius, yaitu intrinsik dan ekstrinsik (Allport & Ross, 1967; You & Lim, 2019). Koping religius intrinsik berarti melakukan kegiatan religius karena didorong oleh iman yang tulus dan koneksi spiritual (Allport & Ross, 1967). Hal ini akan membantu seseorang menemukan makna dalam hidupnya sehingga kesejahteraan mental akan meningkat (You & Lim, 2019). Sebaliknya, koping religius ekstrinsik cenderung menggunakan religi sebagai sarana untuk mencapai tujuan eksternal atau kenyamanan sosial (Allport & Ross, 1967). Apabila pendekatan ekstrinsik yang digunakan, kita perlu berhati-hati karena pendekatan ini justru berpotensi membuat seseorang sulit menemukan makna dalam hidupnya sehingga kesejahteraan mental dapat menurun (You & Lim, 2019).

Bertolak dari pemaparan di atas, jelas terlihat besarnya peran religiusitas terhadap kesejahteraan psikologis. Terlebih, penelitian menunjukkan bahwa semakin dewasa religiusitas seseorang, maka ia akan semakin cenderung menerapkan strategi koping adaptif, yaitu strategi yang berfokus pada masalah dan pengelolaan emosional (Mahfoud dkk., 2023). Masa Pra-Paskah ini bisa menjadi moment bagi kita untuk merefleksikan apakah kita sudah menerapkan koping religius dengan orientasi intrinsik dan pendekatan positif. Kita bisa menanyakan pada diri sendiri apa tujuan utama kita mengikuti misa Ekaristi, terlibat dalam pertemuan APP (Aksi Puasa Pembangunan), berbagi dalam kegiatan APP, serta menjalani puasa dan pantang. Apakah karena iman dan kerinduan kita akan kasih Tuhan ataukah lebih karena hal lainnya, misalnya menjaga nama baik di mata orang sekitar? Kita juga bisa merefleksikan bagaimana kita memandang persoalan dan ‘kesialan’ yang menghadang saat menjalani hidup, khususnya dalam menjalani ketiga tradisi Katolik di masa Pra-Paskah, yaitu doa, derma, serta puasa dan pantang. Apakah kita mampu melihatnya dari perspektif kasih Tuhan? Ketika kita meyakini bahwa semua yang terjadi adalah sebagai bentuk cinta-Nya, maka kita akan lebih mampu untuk memperoleh makna sehingga dapat menerima kenyataan dan memikirkan tindakan apa yang perlu diambil. Semoga kita senantiasa dimampukan merespon situasi tak nyaman secara tepat dengan selalu melibatkan Tuhan di setiap langkah yang kita ambil.

Referensi:

  • Agbaria, Q., Abu-Mokh, A.J. The use of religious and personal resources in coping with stress during COVID-19 for Palestinians. Current Psychology 42, 12866–12878 (2023). https://doi.org/10.1007/s12144-021-02669-5
  • Allport, G. W., & Ross, J. M. (1967). Personal religious orientation and prejudice. Journal of Personality and Social Psychology5(4), 432–443. https://doi.org/10.1037/0022-3514.5.4.432
  • Basso, J. C., McHale, A., Ende, V., Oberlin, D. J., Suzuki, W. A. (2019). Brief, daily meditation enhances attention, memory, mood, and emotional regulation in non-experienced meditators. Behavioural Brain Research, 356, 208-220. https://doi.org/10.1016/j.bbr.2018.08.023
  • Burger, J. M. (2011). Introduction to personality (8th ed). Canada: Wadsworth Cengage Learning.
  • Coates, D. & Winston, T. (1987). The dilemma of distress disclosure. In V. J. Derlega & J. H. Berg. Self-disclosure: Theory, research, and therapy. New York: Springer Science+Business Media.
  • Farber, B. A. (2006). Self-disclosure in psychotherapy. New York: The Guilford Press.
  • Francis, B., Gill, J. S., Yit Han, N., Petrus, C. F., Azhar, F. L., Ahmad Sabki, Z., Said, M. A., Ong Hui, K., Chong Guan, N., & Sulaiman, A. H. (2019). Religious Coping, Religiosity, Depression and Anxiety among Medical Students in a Multi-Religious Setting. International journal of environmental research and public health16(2), 259. https://doi.org/10.3390/ijerph16020259
  • Hebert, R., Zdaniuk, B., Schulz, R., & Scheier, M. (2009). Positive and negative religious coping and well-being in women with breast cancer. Journal of palliative medicine12(6), 537–545. https://doi.org/10.1089/jpm.2008.0250
  • Mahfoud, D., Fawaz, M., Obeid, S. et al. The co-moderating effect of social support and religiosity in the association between psychological distress and coping strategies in a sample of Lebanese adults. BMC Psychol 11, 61 (2023). https://doi.org/10.1186/s40359-023-01102-9
  • Pargament, K. I., Koenig, H. G., & Perez, L. M. (2000). The many methods of religious coping: development and initial validation of the RCOPE. Journal of clinical psychology56(4), 519–543. https://doi.org/10.1002/(sici)1097-4679(200004)56:4<519::aid-jclp6>3.0.co;2-1
  • Pennebaker, J. W., & Chung, C. K. (2011). Expressive writing and its links to mental and physical health. In H. S. Friedman (Ed.), Oxford handbook of health psychology. New York, NY: Oxford University Press.
  • Stiles, W. B. (1987). “I have to talk to somebody”: A fever model of disclosure. In V. J. Derlega & J. H. Berg. Self-disclosure: Theory, research, and therapy. New York: Springer Science+Business Media.
  • Surzykiewicz, J., Skalski, S. B., Niesiobedzka, M., Konaszewski, K. (2022). Exploring the mediating effects of negative and positive religious coping between resilience and mental well-being. Frontier Behavioral Neuroscience, 16. https://doi.org/10.2289/fnbeh.2022.954382 
  • Tedeschi, R. G., & Calhoun, L. G. (2004). Posttraumatic growth: Conceptual foundations and empirical evidence. Psychological Inquiry, 15(1), 1–18. http://www.jstor.org/stable/20447194
  • Tedeschi, R. G., Shakespeare-Finch, J., Taku, K., & Calhoun, L. G. (2018). Posttraumatic growth: Theory, research, and applications. New York: Routledge.
  • You, S., & Lim, S. A. (2019). Religious Orientation and Subjective Well-being: The Mediating Role of Meaning in Life. Journal of Psychology and Theology, 47(1), 34-47. https://doi.org/10.1177/0091647118795180

Sumber gambar:

Tentang Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2024
Gereja Katolik Paroki Santo Paulus Pringgolayan