Menu Close

Surat “Edaran” Kepada Umat, Dewan Paroki, dan Para Ketua Lingkungan Periode 2018-2020

Tulisan ini memang pada judulnya sengaja saya tuliskan surat “edaran”, tetapi janganlah membayangkan apalagi berharap bahwa surat ini akan tampil formal dengan mencantumkan nomor surat, tanggal, apalagi cap, laiknya surat edaran dari Keuskupan ataupun Paroki. Karena yang tertulis di sini hanyalah sebuah serpihan coretan hati.

Saya memang bermaksud “mengedarkan” sesuatu lewat tulisan ini. Saya ingin berbagi kenangan, cerita, maupun rasa. Ya, sebuah rasa atau lebih tepatnya sebuah kekaguman, harapan, dan cinta saya bagi umat, dewan pastoral paroki, terutama bagi para rekan sejawat ketua lingkungan Gereja St. Paulus Pringgolayan yang sebentar lagi akan purnatugas.

Kebetulan saja, saya merupakan salah satu ketua lingkungan yang akan mengakhiri masa tugas dalam periode ini. Banyak kenangan yang saya, atau lebih tepatnya kita, semua umat Gereja Pringgolayan alami selama kurun waktu 2018-2020 ini.

Terpaan Cobaan dan Masalah

Satu hal yang sangat membekas di memori saya adalah rentetan masalah atau cobaan yang dialami oleh Gereja Pringgolayan ini.

Sabtu sore, 27 Januari 2018, berlangsung misa syukur peresmian Paroki St. Paulus Pringgolayan. Perayaan ekaristi dipimpin langsung oleh Uskup Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko. Setelah misa, dalam rangka prosesi peresmian paroki, hadir pula Bupati Bantul, H. Suharsono, jajaran Muspida, serta pejabat daerah lainnya.

Selain acara peresmian paroki juga dilakukan pelantikan pengurus Dewan Pastoral Paroki periode 2018-2020, termasuk kami para ketua lingkungan terpilih.

Persis satu hari setelah itu, tepatnya Minggu pagi, 28 Januari 2018, masyarakat Yogyakarta dikejutkan dengan berita kehebohan yang berhubungan dengan Gereja Pringgolayan. Sebuah acara bakti sosial, sebagai bagian dari rangkaian syukuran peresmian paroki, akhirnya batal dilaksanakan. Acara bakti sosial bagi masyarakat sekitar Dusun Pringgolayan itu terpaksa urung digelar berhubung adanya protes dan hadangan dari sekelompok ormas keagamaan tertentu.    

Beberapa bulan kemudian, pada 17 Desember 2018, tepat beberapa hari menjelang perayaan Natal, ada peristiwa lain yang juga menjadi viral. Kejadian pemotongan nisan salib dari salah satu umat Gereja Pringgolayan yang akan dimakamkan di makam Jambon, Desa Purbayan, Kecamatan Kotagede, Yogyakarta.

Tidak sampai di situ saja kasus yang ada, karena pada awal bulan April 2019, di salah satu bagian wilayah Paroki St. Paulus Pringgolayan, tepatnya di Dusun Karet, Desa Pleret, Bantul, kembali terjadi peristiwa yang menyita perhatian media massa. Seorang warga Katolik, Slamet Jumiarto, sempat ditolak oleh warga atau pengurus kampung untuk tinggal (menempati rumah kontrakan) di Dusun Karet tersebut dengan alasan bahwa yang bersangkutan memeluk agama Katolik.

Dalam tulisan ini saya tidak akan memberikan analisis, tidak pula menelisik detail latar belakang kejadian, dan juga tidak memaparkan beragam versi pandangan atas kasus-kasus di atas. Terlepas entah ada yang puas atau tidak puas atas penyelesaian kasus-kasus tersebut, fokus saya cuma ingin melihat sisi lain. Tentang bagaimana umat Gereja Pringgolayan akhirnya bisa dengan tenang dan bijak melalui semua cobaan dan masalah yang ada. Itu semua terbukti bisa dijalani dan dilewati dengan baik.   

Tantangan Zaman

Ada hal menarik lainnya dalam periode kepengurusan 2018-2020 ini. Dalam masa inilah resmi dimulai proses pembangunan gedung paroki dan renovasi gereja.

Saya dan rekan-rekan dari paguyuban ketua lingkungan juga tidak ketinggalan berupaya membantu dalam sosialisasi rencana pembangunan dan renovasi itu kepada seluruh umat di lingkungan masing-masing.

Dalam perjalanan waktu, paguyuban ketua lingkungan (dan seluruh umat) juga mengalami duka yang mendalam. Dua orang sahabat kami, Bpk. Titus Sukardi (Ketua Lingkungan Sanjaya) dan Bpk. F.X. Agus Budiarmono (Ketua Lingkungan Markus) telah dipanggil menghadap Allah di surga saat mereka berdua sama-sama masih menjabat sebagai ketua lingkungan dalam masa bakti tugas pelayanannya kepada umat. Mohon dukungan doa bagi almarhum Pak Kardi dan Pak Agus.   

Catatan sejarah yang juga tidak akan terlupa. Pada periode inilah, kita semua menghadapi wabah pandemi virus corona. Dampak pandemi ini mengguncang seluruh dunia dan seluruh sistem, termasuk juga pada institusi Gereja Katolik.

Tata peribadatan Gereja Katolik mengalami berbagai bentuk penyesuaian dalam masa pandemi ini. Gereja St. Paulus Pringgolayan juga melakukan hal yang sama. Dewan Pastoral Paroki, Paguyuban Ketua Lingkungan, serta seluruh umat juga bekerja keras merencanakan dan menjalankan masa adaptasi kebiasaan baru, khususnya yang terkait dengan pelaksanaan perayaan ekaristi secara tatap muka di gereja. Kita sama-sama berharap dan terus berdoa, semoga pandemi ini bisa segera berakhir.  

Di tengah berbagai masalah yang mendera, kita bisa mengambil hikmah bahwa kita telah ditempa untuk menjadi murid-murid Kristus yang lebih tangguh.

Tidak lupa, saya mengucapkan selamat bertugas kepada rekan-rekan ketua lingkungan yang masih melanjutkan tugasnya untuk periode berikut. Selamat bertugas dan proficiat juga kepada seluruh pengurus baru di lingkungan maupun di Dewan Pastoral Paroki.

Semoga mampu melayani umat dengan baik serta bisa menghadapi berbagai tantangan di depan dalam periode yang baru. Karena setiap zaman/periode/era memiliki kekhasan dan tantangan yang berbeda-beda pula.

Akhir kata, mengacu penggalan awal judul tulisan ini (Surat “edaran”), semoga tulisan ini bisa terus “beredar” dan memantik semua hati untuk saling bahu-membahu melayani dan mengembangkan Gereja sesuai dengan pilihan serta jalannya masing-masing.***

 1,101 total views,  1 views today

Related Posts

4 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *